Sekelompok bocah lelaki memperebutkan satu bola plastik tanpa menghiraukan hujan yang semakin deras menguyupkan sekujur tubuh mereka. Tak juga terusik oleh cipratan lumpur atau terganggu oleh ingatan tentang nasehat Ibu-ibu mereka untuk tidak main hujan-hujanan. Tak jauh dari mereka 3 bocah perempuan juga masih asik main ingkling melompati kotak-kotak yang tergores di tanah basah seperti melewati satu fase keriangan ke fase keriangan selanjutnya.
Sebagian dari kita mungkin tergelitik untuk mengingat masa hujan-hujanan waktu kecil dulu saat membaca deskripsi di atas. Yaaa….siapa belum pernah merasakan asiknya main hujan-hujanan?! Kalo pulang sekolah mendung, bukannya jalan cepet-cepet biar ga kehujanan, tapi malah buka baju dan menantang langit, menyongsong hujan. Kalo sekujur badan udah basah…rasanya…ffuuahhhh….kayak aktor bollywood lagi shooting (halaah…).
Bagi anak-anak, hujan itu memberikan alternatif ‘dunia baru’ sekaligus pengalaman baru, semacam negeri dongeng tapi lebih nyata. Dunia yang biasanya berisi udara tiba-tiba dipadati tirai air yang jatuh dari langit. Bahkan, kenyataan bahwa air hujan itu jatuh dari langit mungkin akan mencipta imaginasi tentang air mandi bidadari yang tumpah ke bumi. Anak-anak berbondong-bondong memasuki ‘dunia’ hujan dengan riang hati, misalnya bermain sepak bola di kubangan air.
Sementara anak-anak tergila-gila pada hujan, orang dewasa –kebanyakan- membenci hujan dengan alasan:
1. Banjir (banjir di jalan bikin macet, banjir di rumah capek nge-pelnya)
2. Ribet (terasa banget karena sekarang jadi pe-motor, kalo ujan harus nggulung baju dan celana, pake mantel, belum lagi kecipratan air kotor dari roda motor)
3. Jadi gampang sakit dan meriang
4. Rumah bocor, wc jadi mampet karena saluran penuh
5. basah dimana-mana, ga bisa jalan-jalan…
6. dan lain-lain…
Jadi kalo anak kecil bisa menikmati hujan, kenapa saya –dan juga orang lain- yang dewasa justru memusuhi hujan dan stres kalo musim hujan tiba? Mungkin (ini kan hasil grenengan saya saja) karena saya (atau kita) terlanjur mengasosiasikan hujan dengan segala tetek bengek yang negatif. Sedangkan pikiran polos anak kecil tak mengasosiasikan hujan dengan sederet ketidaknyamanan, atau bahkan mengasosiasikan hujan dengan acara main bola yang makin seru.
Kalau begitu, mungkin kita bisa melakukan terapi hujan untuk mengurangi stres kala (musim) hujan datang. Intinya adalah mencari cara agar kita tidak lagi menganggap hujan sebagai bagian dari ‘nasib sial’. Bagaimanakah itu? Tentu saja saya tidak menyarankan untuk main hujan-hujanan karena memang fisik kita ini sudah mulai menua sehingga tak kuat lagi menahan dingin dan kejamnya air hujan. Saya juga tak menyarankan (harus) pindah ke luar jakarta biar bebas banjir tiap taun.
Lalu? Kalo hujan mulai turun, ambil saja cangkir ato gelas, tuangkan sebungkus kopi atau teh celup, tambahkan air panas, lalu seruputlah di tempat yang nyaman..misalnya sofa empuk, karpet di depan tivi, atau pelukan suami/ istri (saya tidak menyarankan ini bagi yang belum menikah…bisa keterusan). Bicarakanlah apa saja (kalau ada teman bicara) atau bayangkan kenangan indah waktu pacaran dan kehujanan dulu (ini juga khusus bagi yang pernah punya pacar dan pernah kehujanan sama pacar)…atau apapun juga yang membuat bahagia.
Kalau cara itu ga mempan juga gimana? Hmmm….saya juga sedang mikir bagaimana caranya biar ga jengkel kalo kehujanan
Sumber coretan:
1. Suatu sore yang hujan deras, melintas di perempatan patung tani dan kecipratan air dari roda mobil sebelah waktu bengong liatin Hotel Arya Duta dan keinget Pak Iqbal yang ketangkep KPK di hotel itu…. (huah..kalimat yang aneh dan mbingungi)
2. Sambil napak tilas ke puisi lamaku http://ailyms.blog.friendster.com/2006/08/kendaraan-doa/
3. Gambar diambil dari: http://k43.pbase.com/o6/26/586926/1/82099225.18SQxiGM.20070710.jpg dan http://thumb.visualizeus.com/thumbs/08/12/03/couples,hug,kiss,love,rain-d3c7745e4c6e32a0dbb356f5e7d7806b_m.jpg


ah, saya mah suka hujan-hujanan, dan gerimis selalu membawa cerita bagi kami, jadi apa sedihnya? ;p
brrrr… duingin banget.. tapi asikk:D