Dulu….sepotong bulan setiap malam, untukmu mantan pacarku
Menemani makan malam kita dari satu kaki lima ke warung tenda lainnya
Atau sesekali melaju menembus lika-liku kota dengan dua roda
Atau kadang kau lebih suka bercerita saja di bawah lampu taman kota
Sementara aku bernyanyi riuh rendah tentang waktu yang berlari tanpa jeda
Sepotong bulan setiap malam, dulu
Untukmu mantan pacarku. Mantan pacar paling baik sedunia
Tapi tidak lagi sekarang,
Biar bulan tetap utuh dan berrotasi sesuai lintasan edarnya
Aku tidak lagi mencari dan menanti
Karena sekarang telah ada sepotong hati yang menemani
Sepanjang malam, pagi, siang, sore, dan malamnya lagi
Kepadanya juga akan kuberikan sepotong utuh hatiku:
Suami sekaligus mantan pacar paling hebat…
(16 maret 09, selamat ulang taun, mantan pacar…Terimakasih telah membuatku jadi istri yang sangat bahagia
Catatan: puisi ini pertama kali ditulis tanggal 18 Desember 2008 jam 05. 55 di Stasiun Tugu Jogja, terus disimpen di hape motorola yang baru aja ilang. Karena versi aslinya ilang, jadi-lah versi kedua ini, judulnya sama tapi isinya agak beda.

ultahnya deketan ya…sama mantan pacar..:)..*merinding bacanya..*
iyo e,mbak… Bapak Ibuku lair pada bulan yg sama dan sekarang aku sm mas aan jg lair pd bulan yg sama..hmmm..
Merinding? ini bukan puisi mistis lho, mbak… emang agak norak sih..tapi itulah suara hati hihi
btw mbak, soal bulan, kami juga punya kebetulan
ibuku dan kakakku lahir di bulan januari
kakak iparku alias istri kakakku juga lhir di bulan januari
aku dan bapakku lahir di bulan juli
suamiku juga lahir di bulan juli
dan ditambah lagi
tanggal nikah kakakku sama dengan tanggal jadian aku dan suamiku
dan tanggal lahir suamiku sama dengan tanggal nikah bapak-ibuku
hwuehhehehe
@ Jeng Hayu: Waduh2….ini malah lebih ‘jodo’ di bulan..segitu banyaknya yang mirip di trah keluargamu ya heheh.. btw, makasih udah mampir ya, Jeng manten anyar