::sebelumnya, saya tau kalo tulisan ini sungguh-sungguh nggak penting, tapi kok ya saya pengen posting juga ::
Sekarang –sejak si Mas harus lembur di kantor sepanjang hari- porsi nonton TV jadi makin besar. Pulang kerja, sampe rumah sekitar jam setengah tujuh, setelah sholat magrib terus makan malem sambil nonton TV. Sabtu-Minggu kalo ga pengen keluar rumah juga nonton TV seharian. Paling nggak, sekarang 4 jam per hari nonton TV… padahal dulu jaman masih ngekos bisa tahan berbulan-bulan tanpa TV (karena ga punya TV, and I’m proud of it)…
Ada beberapa acara yang cukup jadi favorit karena kalo dibandingkan acara-acara lain, kualitasnya lumayanlaah…… Beberapa diantaranya adalah reality show. Berikut catatan saya tentang acara-acara tersebut:
1. Tukar nasib (reality show, SCTV), acara ini kayaknya berubah jam tayang, saya ga apal jam tayangnya tapi sering nonton secara ga sengaja.
Disini, ada 2 ‘kubu’ yang dipertukarkan nasibnya selama 3 hari, biasanya sih kubu si kaya dan kubu si miskin. Jalan ceritanya sebenarnya nggak akan beda-beda jauh pada tiap episode, misalnya: anak-anak dari kubu kaya yang merajuk waktu diajak hidup ala si miskin, ibu-ibu dari kubu kaya yang jijik dan mual waktu harus jadi pemulung, dan tentu saja ke-grogi-an si miskin ketika harus tinggal dan hidup dengan gaya si kaya.
Di akhir acara, akan ada sesi memberi hadiah dan kesan-pesan. Si kaya biasanya berkomentar begini: ”Kami jadi semakin bersyukur dengan apa yang kami miliki, anak-anak juga bisa belajar menghargai orang lain, dan kami bahagia bisa menjalani pengalaman yang sangat berbeda”. Dan komentar si miskin adalah: “Enak jadi orang kaya, semoga nanti kita bisa jadi juragan seperti mereka ya, bu, rumahnya besar dan bagus. Kita harus kerja lebih giat, pak”
gambar diambil tanpa ijin dari sini.
Komentar: Reality show ini tidak terlalu mengekspose kesedihan dan mengajak pemirsanya jadi terharu (beda sama “Bedah Rumah” yang kental adegan menangis, misalnya) malahan mengajak kita menikmati sisi-sisi lucu pertukaran nasib 2 ‘kubu’ yang berbeda. Walau terkesan agak monoton dari episode ke episode, tapi lumayanlah. Tapi kadang ada adegan ‘keterlaluan’ yang cukup mengganggu, misalnya ibu-ibu yang ga bisa pake mesin cuci dan malah nyuci di atas closet duduk atau bapak-bapak yang salah meletakkan gagang telpon atau menyangka remot AC sebagai handphone. Adegan-adegan itu hampir selalu dapat ditemukan di setiap episode
2. Curious George (kartun anak-anak yang disiarkan di Global, pagi2 sekitar jam 7): ini film kartun lumayan favorit di pagi hari. Cerita sehari-hari seekor monyet lucu yang selalu ingin tahu. Hmmm….jarak antara “bodoh-selalu ingin tahu-dan pintar” ternyata ga terlalu jauh ya?
3. Cintaku (sinetron disiarkan di RCTI jam 7 malem) dan Inayah (sinetron disiarkan di Indosiar jam 8 malem)
Cintaku: Awalnya iseng nonton karena tokoh utamanya punya karakter yang agak beda sama tokoh utama sinetron-sinetron lain, walau sama-sama berkisah tentang menantu perempuan yang teraniaya. Tapi lama-lama ceritanya makin eneg aja… sekarang udah bosen, setelah nonton sekitar 5 – 6 episode
Inayah: Sinetron yang ‘lucu’, dulu pertama kali nonton karena sinetron ini seperti mengangkat kisah nyata Syech Puji. Setting, tokoh, dan pernik-pernik lainnya membangun jalan cerita seperti kisah si Syech dari Semarang itu. Belakangan –entah kenapa- semua setting dan pernak-pernik diganti (dulu semua tokoh perempuannya berjilbab lebar lengkap dengan gamisnya, tokoh lelakinya selalu berkoko, panggilannya kanjeng-umi, dll tapi sekarang jilbab-jilbab dilepas, panggilan juga berubah). Jalan ceritanya makin lama juga makin aneh….
4. Termehek-mehek (reality show, ditayangkan Trans TV tiap weekend sore)
Pertamanya begitu terpana, jalan ceritanyaa….ampuun deh, menguras air mata
Tapi lama-lama…heuuuh….bikin bosen juga
(
5. Usil (MTV-Global, acara selingan, sekitar 15 menit, isinya ngerjain orang)
Hahahah…..kalo liat acara ini, langsung berasa gimanaaaaa gituuuu. Jadi, acara ini menayangkan ke-usil-an tim Usil mengerjai beberapa orang yang ga tau apa-apa, kalo orang tsb bisa bersabar sampe 10 menit, dapet duit deh…
Misalnya: ada episode orang yang dituduh nyuri sepatu, episode orang disuruh bayarin tiket masuk orang-orang yang ga kenal, dsbg.
Hiks hiks….kalo aku ikutan acara ini, pastiiii kalah, soalnya diriku ini sangat amat tak sabaran dan gampang marah (jadi inget kejadian marah-marah di laundry indomaret, nggak penting banget marahnya. Masih kepikiran mau minta maaf sama si mbak yang kumarahin itu sampe sekarang, sayangnya si mbak udah pindah dari situ..)
6. Reaksi (Reality show yang merupakan acara baru di Trans TV, ga apal jam tayangnya)
Ini bagus niii…. Di sini kita bisa tau seberapa besar kepedulian orang-orang kalo kebetulan dihadapkan pada situasi khusus. Di Jakarta yang katanya orang-orangnya sudah kehilangan kepedulian pada sesama, ternyata masih banyak juga kok orang yang peduli. Aku baru nonton 2 episode, salah satunya ada sesi yang menangkap reaksi orang kalo ada orang merokok di tempat umum dan ga tau malu, ada juga sesi tentang reaksi orang kalo liat peers bullying, pencurian di minimarket, perilaku sewenang-wenang pada pengemis, dll.
7. Dream girls (Kontes menyanyi di Global TV, tiap rabu malem kalo ga salah..)
Saya baru 2 kali menonton kontes ini (sebelumnya saya ga pernah nonton kontes-kontes semacam itu) dan cukup terkesan dengan kualitas suara trio-trio yang dipromosikan akan menjadi ‘tiga diva masa depan’. Apalagi pesertanya adalah ibu-ibu yang secara fisik sudah ‘tidak berbentuk’ lagi, kalo dilihat dari definisi ‘cantik dan menarik’ yang dianut masyarakat kita selama ini. Secara fisik, mereka tidak lagi langsing, putih, kulit mulus, kaki jenjang, dada membusung….selain itu, mereka udah punya suami dan anak yang mau tak mau membuat mereka harus betah di rumah, tapi toh dengan semua itu, mereka bisa tetep ber-ekspresi dengan semangadddd…
Tapi, makin lama semua acara TV makin bikin bosen…. Jadi sejak semalam saya milih baca aja dari pada nonton TV..
-Mei 2009-

Di Kompas edisi Minggu 31 Mei 09, ada artikel bagus…judulnya “menjual kemiskinan”… dan saya langsung teringat ‘hobi’ saya nonton acara semacem tukar nasib, andai aku menjadi, dll… Mungkin memang benar, kita sedang bosan dengan tayangan yang mengekspose kemewahan, lalu stasiun TV -dengan jelinya- memilih menayangkan sajian yang berbingkai air mata dan kemiskinan. lalu saya -dan jutaan orang lainnya- merasa sudah cukup peduli dengan orang lain hanya dengan menonton di ruang keluarga yang sejuk, adegan-adegan kecanggungan si miskin yang harus berhadapan dengan rumah mewah atau uang jutaan rupiah. Dan saya juga akui, sering kali saya tertawa dan tersenyum melihat gemetar tangan si miskin yang menerima uang jutaan rupiah atau menikmati hotel plus makan malam yang bertarif ratusan ribu rupiah (entah senyum iri, senyum senang, senyum terharu, atau bahkan senyum mengejek)…
Saya sampaikan juga disini, apa paragraf penutup di artikel yg dimuat Kompas itu: Kita sekarang cuma sedang seolah-olah peduli tanpa peduli bagaimana cara membantu kaum miskin. Semua orang -pembuat acara TV, politisi, siapapun- justru memanfaatkan kemiskinan. Dan yang lebih hebat lagi, ternyata ada tur kemiskinan lho… wisata di sekitar rel stasiun senen, pinggiran ciliwung, stasiun kota, dll… diminati oleh turis mancanegara, dan tarifnyapun…dolar!
Bunda, selamat datang di dunia simulasi; it’s simulacra! dan mari lebih bijak menyikapinya..:)